Rp 1.000 dan Rp 100.000

20120514-135024.jpg

Uang Rp 1000 dan Rp 100.000
sama-sama terbuat dari kertas, sama-sama dicetak dan diedarkan oleh
dan dari Bank Indonesia. Pada saat bersamaan mereka keluar dan berpisah dari Bank dan beredar
di masyarakat.

Empat bulan kemudian mereka bertemu lagi secara tidak sengaja di
dalam dompet seorang pemuda.
Kemudian diantara kedua uang tsb terjadilah percakapan Rp 100.000
bertanya kepada yang Rp 1000.  “Kenapa badan kamu. begitu lusuh, kotor dan bau amis…?” Dijawablah olehnya” karena akuˋbegitu keluar dari Bank langsung ditangan orang-orang bawahan dari tukang becak, tukang sayur, penjual ikan dan ditangan pengemis”

Lalu Rp 1000 bertanya balik pada Rp 100.000 “Kenapa kamu kelihatan begitu baru, rapi dan masih bersih?”  Dijawabnya “Karena begitu aku keluar
dari Bank, langsung disambut perempuan cantik dan beredarnyapun di
restauran mahal, di mall dan juga hotel-hotel berbintang serta keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet”.

Lalu Rp 1000 bertanya lagi, “Pernahkah engkau mampir ditempat ibadah?
“Dijawablah;  Belum pernah”. Rp 1000 pun berkata lagi; “Ketahuilah
walaupun keadaanku seperti ini adanya, setiap Jum’at  atau Minggu aku
selalu mampir di MASJID, GEREJA, KLENTENG, VIHARA dan ditangan
anak-anak yatim, bahkan aku selalu bersyukur kepada Tuhan. Aku tidak
dipandang manusia bukan sebuah nilai tapi yang dipandang adalah sebuah
manfaat…  Akhirnya menangislah uang Rp 100.000  karena merasa besar,
hebat, tinggi tapi tidak  begitu bermanfaat selama ini.

Jadi…. bukan seberapa besar penghasilan Anda, tapi seberapa bermanfaat penghasilan anda itu,  karena kekayaan bukanlah untuk kesombongan.

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang selalu mensyukuri
nikmat dan memberi manfaat untuk semesta alam serta dijauhkan dari sifat
sombong.

Perihal PD. Pradipta Abadi
Natural Products Distributor

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: